Live News

28.3°C
  • Jakarta
August 22, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogBisnisEkonomiCADANGAN DEVISA AKHIR JUNI 2026 SEBESAR US$145,6 MILIAR

CADANGAN DEVISA AKHIR JUNI 2026 SEBESAR US$145,6 MILIAR

Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 21/8/2026). Bank Indonesia (BI) menyatakan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$145,6 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Hal tersebut dikatakan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers BI hari ini. “Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” katanya.

Lebih jauh, Ramdan Denny mengatakan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“NPI pada triwulan II 2026 mencatat defisit US$0,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2026 sebesar US$9,1 miliar,” katanya.

Sementara itu, transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi. Hal tersebut didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas.

BACA JUGA  GUBERNUR BI UNGKAP TIGA KUNCI AGAR PERTUMBUHAN EKONOMI LEBIH TINGGI PADA 2026

Sedangkan transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. Hal ini mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga.

Disebutkan, transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.

Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026.

Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS (3,3% dari PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0% dari PDB).

Prospek cerah

Transaksi modal dan finansial mencatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik. Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.

BACA JUGA  BI RATE TETAP 4,75%, DORONG PERTUMBUHAN EKONOMI DAN STABILITAS

Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah. Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026, setelah pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar 4,8 miliar dolar AS.

“Ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat,” katanya. (JB/03/Wid)

Related Post