Live News

28.3°C
  • Jakarta
October 17, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogNasionalPolitikSURVEI SMRC, ELEKTABILITAS PRABOWO TERJUN BEBAS

SURVEI SMRC, ELEKTABILITAS PRABOWO TERJUN BEBAS

Jakarta, JaringBisnis (Sabtu, 17/10/2026). Tingkat keterpilihan (elektabilitas) Presiden Prabowo Subianto dalam 1 tahun terakhir turun drastis. Hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk ‘Elektabilitas Presiden Prabowo’ pada 1-10 Oktober 2026, menujukkan elektablitas Prabowo hanya 9,8%. Padahal, pada November 2025, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut masih di angka 34,9%.

Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, Dedi Mulyadi meraih dukungan tertinggi yaitu 35,5%. Anies Baswedan menyusul dengan 10,3%, sementara Gibran Rakabuming Raka mendapat 8,4%. Nama-nama lain mendapat dukungan di bawah 6%, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,9%.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, di kanal YouTube SMRC TV hari ini menyatakan penurunan tajam elektabilitas Prabowo berhubungan dengan kinerjanya sebagai presiden.

“Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP,” kata Deni.

Posisi berbalik

Lebih jauh, Deni menyatakan posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan 34,9% sementara Dedi Mulyadi 19,7%.

BACA JUGA  PRESIDEN TEGASKAN KOMITMEN PEMERINTAH PERCEPAT PEMULIHAN ACEH TAMIANG

Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih di 33,3%, namun turun menjadi 14,5% pada Juli 2026 dan 9,8% pada Oktober 2026. Sebaliknya, pada periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5%.

Pola yang sama terlihat dalam simulasi dua nama. Jika yang maju hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, Dedi mendapat 69,3%, jauh di atas Prabowo yang hanya mendapat 18,8%. Yang belum tahu 12 persen.

Deni menjelaskan elektabilitas Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama, berbalik secara tajam dalam tujuh bulan terakhir. Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo unggul dengan dukungan 50,5%, sementara Dedi Mulyadi 42,6%.

Pada Juli 2026, keadaannya berbalik. Dedi Mulyadi naik menjadi 59%, sedangkan Prabowo turun ke 28,3%. Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69,3%, sementara Prabowo hanya 18,8%. “Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin. Sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin,” jelas Deni.

Gibran unggul

Dalam simulasi tiga nama dengan Gibran dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Prabowo juga gagal unggul. “Hasilnya, Gibran mendapat 29,7%, AHY 28,2%, dan Prabowo 22,7%. Sedangkan yang belum tahu 19,4%.

BACA JUGA  PRESIDEN MILIKI PENDEKATAN REALISTIS TERKAIT BOARD OF PEACE

“Gibran dalam simulasi semi terbuka imbang dengan Prabowo. Dia juga Wapres dan punya hubungan kuat dengan PSI yang mungkin bisa mencalonkannya. AHY juga punya partai, dan mungkin bisa mencalonkan,” jelas Deni.

Menurut Deni, simulasi tiga nama ini dinilai cukup realistis dan relevan untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing.

“Elektabilitas Prabowo tidak berubah menjadi sangat kuat ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing. Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah. Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, dia bisa dikalahkan oleh calon-calon lain dan yang maju ke putaran kedua kemungkinan adalah AHY dan Gibran” jelas Deni.

Lemahnya dukungan pada Prabowo juga terlihat di kalangan pemilih partai. Hanya 20% pemilih Gerindra yang memilih Prabowo dalam simulasi semi terbuka. Sementara 74% memilih calon lain.

Hal yang sama juga terjadi di parpol elitenya telah menyatakan mendudkung Prabowo. Di kalangan pemilih partai Golkar hanya 17%, PAN 8%, dan PKB 4%. Sementara pada pemilih Nasdem 11%, Demokrat 6%, PDIP 6%, dan PKS 2%. (JB/03/Wid)

Related Post