Live News

28.3°C
  • Jakarta
October 2, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogBisnisEkonomiHILIRISASI NIKEL PERKUAT TRANSFORMASI EKONOMI DI SULAWESI

HILIRISASI NIKEL PERKUAT TRANSFORMASI EKONOMI DI SULAWESI

Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 2/10/2026). Perkembangan industri pengolahan mineral turut membentuk lanskap ekonomi baru di sejumlah wilayah Sulawesi. Ekspansi aktivitas pengolahan nikel memperpanjang rantai nilai mineral di dalam negeri, Hal itu juga membuka ruang bagi berkembangnya aktivitas industri, investasi, tenaga kerja, serta kegiatan ekonomi pendukung di daerah.

Di Sulawesi Selatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PDRB Sulawesi Selatan pada periode tersebut mencapai Rp206,70 triliun atas dasar harga berlaku atau Rp110,41 triliun atas dasar harga konstan 2010.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah semakin besarnya perhatian terhadap penguatan industri pengolahan mineral di Sulawesi. Nikel menjadi salah satu komoditas penting dalam proses ini seiring berkembangnya fasilitas pengolahan serta rantai pasok yang terkait dengan industri logam dan bahan baku baterai.

Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai pengembangan rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari aktivitas hulu hingga pengolahan.

“Kalau di upstream kita sudah high maturity, sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,” ujar Faisal.

BACA JUGA  ANGGOTA DPR MINTA PERTAMBANGAN DI RAJA AMPAT DIKAJI ULANG

Menurut Faisal, transformasi struktur ekonomi dapat terlihat antara lain di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan aktivitas industri berbasis pengolahan mineral.

“Kalau dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, sekarang lebih dari 75% ekonominya ditopang sektor industri,” katanya.

Perubahan struktur ekonomi tersebut menunjukkan bagaimana keberadaan industri pengolahan dapat memperluas aktivitas ekonomi di wilayah yang sebelumnya lebih bertumpu pada sektor primer. Namun, besarnya manfaat hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun keterkaitan dengan perekonomian lokal, pengembangan tenaga kerja, serta tata kelola industri yang berkelanjutan.

Terus berkembang

Sejumlah pelaku industri terus mengembangkan investasi pengolahan nikel di Sulawesi. Salah satunya PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, yang mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikelnya.

Pengembangan tersebut mencakup fasilitas berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dirancang untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara yang dapat digunakan lebih lanjut dalam rantai pasok material baterai. Informasi perusahaan menunjukkan pengembangan HPAL terkait proyek Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako Limonite.

BACA JUGA  LABA BERSIH 2024 NAIK 210%, ANCORA OPTIMISTIS TERUS BERTUMBUH

Perkembangan serupa di berbagai kawasan industri menunjukkan bahwa hilirisasi nikel di Sulawesi semakin membentuk ekosistem yang melibatkan perusahaan pertambangan, pengolahan mineral, penyedia teknologi, tenaga kerja, serta berbagai kegiatan ekonomi pendukung.

Bagi daerah penghasil sumber daya, tantangan berikutnya adalah memastikan ekspansi industri tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang semakin luas. Peningkatan nilai tambah perlu berjalan bersama pengembangan kapasitas tenaga kerja lokal, keterlibatan usaha daerah, pengelolaan dampak lingkungan, serta penciptaan kegiatan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Dengan cadangan mineral dan berkembangnya kapasitas industri pengolahan, Sulawesi memiliki posisi penting dalam rantai nilai mineral Indonesia. Keberlanjutan transformasi tersebut akan ditentukan tidak hanya oleh besarnya investasi dan produksi, tetapi juga oleh sejauh mana industrialisasi mampu menghasilkan nilai tambah yang terhubung dengan pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. (JB/03/Wid)

Related Post