Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 20/8/2026). Bank Indonesia (BI) menyatakan transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2026 tetap tumbuh. Kondisi tersebut didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal serta infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat.
“Volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi atau tumbuh 28,69% (yoy) pada Juli 2026. Hal itu didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital,” jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya.
Dikatakan, yolume transaksi melalui internet dan aplikasi mobile masing-masing tumbuh 9,39% (yoy) dan 24,25% (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 82,42% (yoy),.
Dari sisi infrastruktur, jelasnya, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 546 juta transaksi atau tumbuh 31,62% (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.355 triliun.
“Sementara itu, volume transaksi nilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi atau tumbuh 3,12% (yoy), dengan nominal transaksi BI-RTGS tumbuh 1,54% (yoy) mencapai Rp20.097 triliun,” ungkap Ramdan.
Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,10% (yoy) menjadi Rp1.314 triliun. “Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T),” katanya.
Kecukupan likuiditas
Lebih jauh dikatakan, BI terus memperkuat kebijakan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian, yang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi. Uang primer pada Juli 2026 tumbuh tinggi 18,3% (yoy), didukung berbagai langkah yang ditempuh BI dalam menjaga kecukupan likuiditas.
“Dari komponennya, pertumbuhan uang primer pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh sebesar 22,4% (yoy) dan uang kartal yang tumbuh sebesar 15,1% (yoy),” ungkap Ramdan.
“Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan uang beredar pada Juli 2026 dipengaruhi oleh operasi moneter BI dan ekspansi operasi keuangan Pemerintah,” imbuhnya.
Sejalan dengan itu, jelas Ramdan, uang beredar dalam arti luas pada Juni 2026 tumbuh sebesar 8,7% (yoy). Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat.
“Ke depan, berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian akan terus ditempuh sehingga dapat menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (JB/03/Wid)


