Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 31/5/2026). Paris Saint-Germain (PSG) mengukuhkan diri sebagai salah satu tim terbaik Eropa sepanjang sejarah. Hal tersebut terjadi setelah PSG merebut gelar juara Liga Champions UEFA 2025-2026 usai menang 4-3 dalam adu penalti atas Arsenal dalam final di Puskas Arena, Hongaria, Sabtu (30/5/2026).
Ini menjadi gelar Liga Champions kedua PSG secara buruntun setelah musim lalu meraih gelar yang sama. Capaian ini membuat PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar juara sejak tiga gelar beruntun diraih Real Madrid dari 2016 hingga 2018. PSG kini menjadi tim kedya yang mampu back to back sejak era Liga Champions dimulai pada 1993.
Bahkan, sepanjang sejarah kompetisi selama 71 tahun, PSG menjadi tim ke-10 yang mampu memenangkan gelar berturut-turut.
“Saya merasa campur aduk.”Kegembiraan, kelelahan – semuanya. Tapi ini adalah momen terbaik musim ini. Kami masih juara, dua kali berturut-turut, sungguh luar biasa,” ujar pelatih PSG Luis Enrique setelah pertandingan.
Enrique kini menjadi pelatih kelima yang mampu tiga kali membawa tim asuhannnya merebut gelar Liga Champions setelah Pep Guardiola, Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Carlo Ancelotti. Selain dua kali membawa PSG menjadi juara, Enrique juga mengukir prestasi yang sama bersama Barcelona pada musim 2015-2015.
Menghadapi Arsenal, PSG mampu mendominasi laga. Sempat tertinggal melalui gol Kai Harvertz saai laga baru berjalan lima menit, PSG mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui penalti Ousmane Dembele menit 64.
Dalam adu penalti setelah kedudukan 1-1 tidak berubah hingga 120 laga, PSG lebih beruntung dibanding Arsenal. Dari lima kesempatan, PSG hanya satu kali gagal sementara Arsenal dua kali.
Kekalahan pertama
Di sisi lain, kekalahan dari PSG di laga puncak merupakan kekecewaan besar Arsenal. Pasalnya, sebelum laga final, The Gunners tampil menyakinkan di Liga Champions musim ini dengan tidak pernah menelan kekalahhan.
Dari Dari 14 laga yang dimainkan, pasukan Mikel Arteta meraih 11 kemenangan dan tiga hasil imbang. Namun, kekalahan pertama Arsenal di Liga Champions musim ini justru datang di laga puncak.
“Sangat sulit ketika Anda begitu konsisten dalam kompetisi hingga final, dan pada akhirnya Anda kalah dalam adu penalti. Itu sulit, Namun, saya bangga dengan apa yang telah ditunjukkan para pemain,” jelas pelatih Arsenal Mikel Arteta.
“Paris Saint-Germain benar-benar sulit untuk dihadapi. Itulah mengapa mereka menjadi juara dua kali berturut-turut. Mereka adalah tim papan atas,” tambahnya. (JB/UEFA/03/Wid)



